Citra sedang asyik membaca novel
favoritnya waktu Ira, kakak sepupunya yang sedikit tomboy nyelonong masuk ke kamarnya. Padahal dia masih memakai piyama dan
penampilannya masih sangat berantakan.
“Ucapkan salam dulu dong, Kak!”, protes
Citra yang merasa sedikit terganggu. Dia lalu meletakkan novelnya untuk
sementara.
”Iya, maaf deh adikku yang manis. Hm,, penampilanmu nggak pernah berubah ya! Sering berantakan”, sesal Ira sambil
mencubit pipi Citra dengan gemas.
”Aduh, jangan gitu dong. Sakit tau! Ada perlu
apa sih? Tumben ke sini”, tanya
Citra.
”Ye, emang
sejak kapan aku nggak boleh datang
ke sini? Ehm,, coba tebak tujuanku datang kemari! Bisa nggak? Bukankah firasatmu tajam?”, tantang Ira.
”Oke, siapa takut! Menurut feelingku sih, pasti ada hubungannya dengan ultahmu Selasa depan kan? Dan Kakak pasti datang untuk
mengundangku”, tebak Citra tepat. Ira hanya mengangguk dan mengedipkan sebelah
matanya.
”So, kamu pasti datang kan? Aku kenalkan ke temen-temen cowokku deh!”,
janji Ira.
”Nggak perlu tuh. Insya Allah, aku usahakan datang. Aku lihat organizerku
dulu ya!”
”Pokoknya,
kamu harus datang! Awas kalau nggak! Ya udah,
aku mau ke tempat Melda. Aku tunggu. Jangan telat! Satu lagi, kadonya jangan
sampai lupa! Wassalamu’alaikum”, jelas Ira tanpa menghiraukan Citra yang masih
bingung dan segera menuju pintu.
”Wa’alaikum
salam”
Selalu gitu! Dia nggak mau
memberiku kesempatan bicara. Huh...menyebalkan!,
pikir Citra.
# # #
“Ma,
enaknya ngasih kado apa ya buat Kak Ira?“, tanya Citra pada
mamanya yang sedang menjahit baju Lucky, adiknya.
“Memangnya
kamu pasti datang? Bukannya kamu sering lupa janji ya?”, sindir Mama.
“Ehm,,
itu sih cuma gara-gara aku lupa memasukkan janji yang harus aku penuhi ke
dalam organizerku”, elak Citra.
“Menurut
Mama, semua kado itu bagus asalkan memberinya dengan hati yang ikhlas. Selain
itu, kado merupakan pengikat jiwa”, saran Mama.
“Oke deh, thanks Ma! Aku keluar
dulu ya! Assalamu’alaikum”
”Wa’alaikum
salam”
# # #
”Gimana kalau ini?”, tawar Melda kepada Citra.
”Boneka? Nggak buruk sih. Tapi aku
ingin ngasih kado yang sangat
bermanfaat buat kak Ira. Oh ya, gimana
kalau ini? Sebentar lagi kan dia akan
menghadapi ujian!”, kata Citra sambil menunjukkan sebuah buku kumpulan soal UAN
SMP..
”Ide bagus tuh! Kalau gitu, aku yang beli tas sekolah aja
deh. Nanti sekalian minta tolong dibungkus ya?”, pinta Melda.
Lalu mereka menuju ke stationeries shop terlengkap di Mall itu.
# # #
”Kriiiing!!”.
Suara ponsel Citra
tiba-tiba berdering sehingga ia bangun dari tidurnya. Dari Melda.
“Assalamu’alaikum“
“Wa’alaikum
salam. Maaf ya ganggu tidur siangmu.
Aku cuma mau mengingatkan acaranya
nanti jam 4 sore. Jangan
telat lho! Plus jangan lupa bawa kedua kadonya. Oh iya, aku nanti nggak bisa jemput kamu. Aku harus
mengantar Kak Andre ke Bandara dulu.
Sekali lagi maaf ya!”, kata Melda.
”Iya, nggak apa-apa kok. Aku
bisa naik motor sendiri. Tenang aja.
Oh ya, salam aja buat Kak Andre. Semoga perjalanannya menyenangkan.”
# # #
“Duh,,, bakalan telat nih! Kenapa
harus mogok sih di saat benar-benar
dibutuhkan! Menyebalkan!”, umpat Citra.
“Salah
kamu juga. Kenapa nggak bilang dulu kalau mau naik motor sendiri? Mama pikir bareng Melda”
“Rencananya
sih gitu. Ehm, Citra naik taksi aja. Assalamu’alaikum”
Setelah berpamitan, Citra
keluar pagar lalu segera menelepon taksi.
# # #
Feelingku mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu
tak terduga disana. Apa ya? Semoga semuanya baik-baik saja,
batin Citra ketika sudah berada di dalam taksi.
Sesampainya di rumah
Ira, Citra ragu untuk masuk. Dia telat hampir satu jam. Dan tidak bisa disebut telat lagi. Namun, dia
akhirnya memutuskan untuk masuk. Dari pantulan kaca di teras, terlihat olehnya
penampilannya sendiri yang cukup mengagumkan hingga ia tak yakin bahwa itu
memang dirinya. Ini semua gara-gara make
over mamanya. Tadinya dia cuma mau pakai kemeja dan jeans. Tetapi mamanya mustahil membiarkan
anaknya pergi dalam keadaan seperti itu untuk menghadiri acara ulang tahun keponakannya.
”Assalamu’alaikum, semua”,
sapa Citra.
”Wa’alaikum salam”
Nggak nyangka tamunya
banyak seperti ini!, kata Citra dalam hati. Lalu, dia segera melangkah menuju ruang tengah.
Dia tahu kalau ada beberapa pasang mata yang masih memandangnya dari balik
punggungnya.
“Baru
datang? Sudah aku duga kamu pasti datang”, sambut Ira.
”Eh,
iya. Sorry telat, tadi motorku mogok
dan akhirnya aku naik taksi ke sini. Ditambah
lagi aku tadi telat bangun. Melda sudah datang?”, tanya Citra sambil
menyerahkan sepasang kado.
”Thanks, itu di sana!”
Tangan
Ira menunjuk ke seorang gadis yang berdiri di pojok dengan senyum manisnya. Dia
terlihat sangat anggun dengan blouse
dan rok birunya. Ira menyuruh Citra bergabung dengan teman-temannya di ruang
tamu tetapi Citra menolak.
”Aku
di sini aja. Nggak enak, aku kan datang terlambat”, pinta Citra. Ira
hanya tersenyum dan mengangguk.
”Penampilanmu
sore ini sempurna, nggak seperti
biasanya. Coba dari dulu begini!”, komentar Ira. Citra tersenyum meskipun agak risih dengan pujian yang tak
biasanya diucapkan Ira.
”Baiklah.
Mari kita lanjutkan dengan permainan
baru. Siapa yang memegang bantal saat musik berhenti harus berdiri di
tengah-tengah kita dan milih
pasangannya. Jelas?”, tanya Melda. Dia bertindak sebagai pembawa acara. Sesuai
dengan bakatnya.
”Ya!!!”,
jawab mereka serentak. Musik pun dimulai.
Kak
Ira memang orang yang supel, temennya banyak, pergaulannya luas. Padahal
usianya baru 14 tahun, satu tahun lebih muda dari ku. Dan dia masih duduk di
kelas 3 SMP. Sedangkan aku baru masuk di sebuah SMA favorit di kota ini. Begitu pun dengan Melda, adik sepupuku
yang meskipun seusia denganku, dia pandai membawa suasana. Ah, aku memang lebih banyak menghabiskan waktuku untuk belajar
daripada bergaul.
Ketika
musik berhenti, boneka berada di tangan Ryan, sahabat Ira. Dia lalu berdiri di
tengah dengan malu-malu.
”Well, Siapa yang akan kamu pilih menjadi
pasanganmu?”, tanya Melda.
”Dia!”,
tunjuk Ryan ke arah Citra.
Citra
masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia tidak menghiraukan Melda yang
memanggilnya. Lalu Ira menghampirinya. Menepuk bahunya. Citra sedikit kaget.
”Tuh, Ryan telah memilihmu menjadi
pasangannya. Mungkin gara-gara
penampilan barumu!”, goda Ira sambil tersenyum jahil.
”Eh!!!”
Belum
sepenuhnya Citra menyadari apa yang sedang terjadi. Tangannya sudah ditarik
Ira.
”Ayo..
Kenalan dulu dong!”, kali ini Melda yang menggoda Citra.
”Ehm...Ryan ”, kata Ryan mengenalkan
dirinya seraya mengulurkan tangannya.
”Citra”,
sahut Citra tanpa menyambut uluran tangan Ryan.
”Ciee...”, komentar temen-temen Ira. Ada
beberapa temen Ryan yang segera mengabadikan moment tersebut. Citra sangat malu dan kesal.
“Ehm,
senang berkenalan dengan cewek manis dan anggun sepertimu”, kata Ryan seraya
memberikan senyum termanisnya. Citra hanya menunduk. Mukanya sudah seperti
udang rebus.
“Ihiiir...
tembak dong, Yan!“, celetuk salah seorang teman Ryan.
Sial! Aku harus cepat-cepat kabur dari
ruangan ini atau aku akan bertambah malu, pikir Citra.
“Tenang.
Semuanya perlu waktu dan proses. Iya kan,
Citra?”, tanya Ryan seakan meminta persetujuan Citra. Yang ditanya cuma diam.
“Citra,
aku ..” Belum sempat Ryan melanjutkan kata-katanya tiba-tiba-tiba ponsel Citra
berbunyi.
“Ya,
Ma. Ada apa?”, tanya Citra. “Baik, Citra pulang sekarang.”
“Kenapa?”, tanya Melda dan Ira hampir
bersamaan.
“Aku
harus segera ke pulang, sist.
Penting!”, jawab Citra.
“Perlu
aku antar?”, tanya Melda.
“Tidak,
terima kasih. Aku naik taksi aja. Tugasmu adalah melanjutkan acara ini.”, tolak
Citra. “Kak Ira, maaf ya aku harus pulang sekarang”.
“Iya,
tak apa”.
# # #
Beberapa
hari kemudian, Ira memberi Citra sepucuk surat dari Ryan. Akan tetapi, sebelum
ia membacanya, angin telah menerbangkan surat itu. Susah payah ia berusaha
mengambilnya. Surat itu melayang-layang di udara dan akhirnya terjatuh di atas
genangan air. Semua tulisannya menjadi luntur. Sebelum tulisannya benar-benar
luntur, sekilas terbaca sebuah kalimat tertulis ”Meeting you was fate, becoming your friend was a choice, falling in
love with you was beyond my control.”
# # #
NB: Mengenai cerpen di atas, saya membuatnya sewaktu masih mengenakan putih abu2. That's why, cerita, alur, dan bahasanya masih sangat cheesy bangetz. ahahaha [by CVI]
No comments:
Post a Comment