Thursday, 29 May 2014

CITRA

            Citra sedang asyik membaca novel favoritnya waktu Ira, kakak sepupunya yang sedikit tomboy nyelonong masuk ke kamarnya. Padahal dia masih memakai piyama dan penampilannya masih sangat berantakan.
            “Ucapkan salam dulu dong, Kak!”, protes Citra yang merasa sedikit terganggu. Dia lalu meletakkan novelnya untuk sementara.
            ”Iya, maaf deh adikku yang manis. Hm,, penampilanmu nggak pernah berubah ya! Sering berantakan”, sesal Ira sambil mencubit pipi Citra dengan gemas.
            Aduh, jangan gitu dong. Sakit tau! Ada perlu apa sih? Tumben ke sini”, tanya Citra.
            ”Ye, emang sejak kapan aku nggak boleh datang ke sini? Ehm,, coba tebak tujuanku datang kemari! Bisa nggak? Bukankah firasatmu tajam?”, tantang Ira.
            ”Oke, siapa takut! Menurut feelingku sih, pasti ada hubungannya dengan ultahmu Selasa depan kan? Dan Kakak pasti datang untuk mengundangku”, tebak Citra tepat. Ira hanya mengangguk dan mengedipkan sebelah matanya.
            ”So, kamu pasti datang kan? Aku kenalkan ke temen-temen cowokku deh!”, janji Ira.
            ”Nggak perlu tuh. Insya Allah, aku usahakan datang. Aku lihat organizerku dulu ya!”
            ”Pokoknya, kamu harus datang! Awas kalau nggak! Ya udah, aku mau ke tempat Melda. Aku tunggu. Jangan telat! Satu lagi, kadonya jangan sampai lupa! Wassalamu’alaikum”, jelas Ira tanpa menghiraukan Citra yang masih bingung dan segera menuju pintu.
            ”Wa’alaikum salam”
            Selalu gitu! Dia nggak mau memberiku kesempatan bicara. Huh...menyebalkan!, pikir Citra.

# # #

            “Ma, enaknya ngasih kado apa ya buat Kak Ira?“, tanya Citra pada mamanya yang sedang menjahit baju Lucky, adiknya.
            “Memangnya kamu pasti datang? Bukannya kamu sering lupa janji ya?”, sindir Mama.
            “Ehm,, itu sih cuma gara-gara aku lupa memasukkan janji yang harus aku penuhi ke dalam organizerku”, elak Citra.
            “Menurut Mama, semua kado itu bagus asalkan memberinya dengan hati yang ikhlas. Selain itu, kado merupakan pengikat jiwa”, saran Mama.
            “Oke deh, thanks Ma! Aku keluar dulu ya! Assalamu’alaikum”
            ”Wa’alaikum salam”

# # #

Gimana kalau ini?”, tawar Melda kepada Citra.
”Boneka? Nggak buruk sih. Tapi aku ingin ngasih kado yang sangat bermanfaat buat kak Ira. Oh ya, gimana kalau ini? Sebentar lagi kan dia akan menghadapi ujian!”, kata Citra sambil menunjukkan sebuah buku kumpulan soal UAN SMP..
”Ide bagus tuh! Kalau gitu, aku yang beli tas sekolah aja deh. Nanti sekalian minta tolong dibungkus ya?”, pinta Melda.
Lalu mereka menuju ke stationeries shop terlengkap di Mall itu.

# # #

            ”Kriiiing!!”. Suara ponsel Citra tiba-tiba berdering sehingga ia bangun dari tidurnya. Dari Melda.
            “Assalamu’alaikum“
            “Wa’alaikum salam. Maaf ya ganggu tidur siangmu. Aku cuma mau mengingatkan acaranya nanti jam 4 sore. Jangan telat lho! Plus jangan lupa bawa kedua kadonya. Oh iya, aku nanti nggak bisa jemput kamu. Aku harus mengantar Kak Andre ke Bandara dulu. Sekali lagi maaf ya!”, kata Melda.
            ”Iya, nggak apa-apa kok. Aku bisa naik motor sendiri. Tenang aja. Oh ya, salam aja buat Kak Andre. Semoga perjalanannya menyenangkan.”

# # #

            “Duh,,, bakalan telat nih! Kenapa harus mogok sih di saat benar-benar dibutuhkan! Menyebalkan!”, umpat Citra.
            “Salah kamu juga. Kenapa nggak bilang dulu kalau mau naik motor sendiri? Mama pikir bareng  Melda”
            “Rencananya sih gitu. Ehm, Citra naik taksi aja. Assalamu’alaikum”
Setelah berpamitan, Citra keluar pagar lalu segera menelepon taksi.

# # #

            Feelingku mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu tak terduga disana. Apa ya? Semoga semuanya baik-baik saja, batin Citra ketika sudah berada di dalam taksi.
Sesampainya di rumah Ira, Citra ragu untuk masuk. Dia telat hampir satu jam. Dan tidak bisa disebut telat lagi. Namun, dia akhirnya memutuskan untuk masuk. Dari pantulan kaca di teras, terlihat olehnya penampilannya sendiri yang cukup mengagumkan hingga ia tak yakin bahwa itu memang dirinya. Ini semua gara-gara make over mamanya. Tadinya dia cuma mau pakai kemeja dan jeans. Tetapi mamanya mustahil membiarkan anaknya pergi dalam keadaan seperti itu untuk menghadiri acara ulang tahun keponakannya.
”Assalamu’alaikum, semua”, sapa Citra.
”Wa’alaikum salam”
Nggak nyangka tamunya banyak seperti ini!, kata Citra dalam hati. Lalu, dia segera melangkah menuju ruang tengah. Dia tahu kalau ada beberapa pasang mata yang masih memandangnya dari balik punggungnya.
            Baru datang? Sudah aku duga kamu pasti datang”, sambut Ira.
            ”Eh, iya. Sorry telat, tadi motorku mogok dan akhirnya aku naik taksi ke sini. Ditambah lagi aku tadi telat bangun. Melda sudah datang?”, tanya Citra sambil menyerahkan sepasang kado.
            ”Thanks, itu di sana!”
            Tangan Ira menunjuk ke seorang gadis yang berdiri di pojok dengan senyum manisnya. Dia terlihat sangat anggun dengan blouse dan rok birunya. Ira menyuruh Citra bergabung dengan teman-temannya di ruang tamu tetapi Citra menolak.
            ”Aku di sini aja. Nggak enak, aku kan datang terlambat”, pinta Citra. Ira hanya tersenyum dan mengangguk.
            ”Penampilanmu sore ini sempurna, nggak seperti biasanya. Coba dari dulu begini!”, komentar Ira. Citra tersenyum meskipun agak risih dengan pujian yang tak biasanya diucapkan Ira.
            ”Baiklah. Mari kita lanjutkan dengan permainan baru. Siapa yang memegang bantal saat musik berhenti harus berdiri di tengah-tengah kita dan milih pasangannya. Jelas?”, tanya Melda. Dia bertindak sebagai pembawa acara. Sesuai dengan bakatnya.
            ”Ya!!!”, jawab mereka serentak. Musik pun dimulai.
            Kak Ira memang orang yang supel, temennya banyak, pergaulannya luas. Padahal usianya baru 14 tahun, satu tahun lebih muda dari ku. Dan dia masih duduk di kelas 3 SMP. Sedangkan aku baru masuk di sebuah SMA favorit di kota ini. Begitu pun dengan Melda, adik sepupuku yang meskipun seusia denganku, dia pandai membawa suasana. Ah, aku memang lebih banyak menghabiskan waktuku untuk belajar daripada bergaul.
            Ketika musik berhenti, boneka berada di tangan Ryan, sahabat Ira. Dia lalu berdiri di tengah dengan malu-malu.
            ”Well, Siapa yang akan kamu pilih menjadi pasanganmu?”, tanya Melda.
            ”Dia!”, tunjuk Ryan ke arah Citra.
            Citra masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia tidak menghiraukan Melda yang memanggilnya. Lalu Ira menghampirinya. Menepuk bahunya. Citra sedikit kaget.
            ”Tuh, Ryan telah memilihmu menjadi pasangannya. Mungkin gara-gara penampilan barumu!”, goda Ira sambil tersenyum jahil.
            ”Eh!!!”
            Belum sepenuhnya Citra menyadari apa yang sedang terjadi. Tangannya sudah ditarik Ira.
            ”Ayo.. Kenalan dulu dong!”, kali ini Melda yang menggoda Citra.
            ”Ehm...Ryan ”, kata Ryan mengenalkan dirinya seraya mengulurkan tangannya.
            ”Citra”, sahut Citra tanpa menyambut uluran tangan Ryan.
            ”Ciee...”, komentar temen-temen Ira. Ada beberapa temen Ryan yang segera mengabadikan  moment tersebut. Citra sangat malu dan kesal.
            “Ehm, senang berkenalan dengan cewek manis dan anggun sepertimu”, kata Ryan seraya memberikan senyum termanisnya. Citra hanya menunduk. Mukanya sudah seperti udang rebus.
            “Ihiiir... tembak dong, Yan!“, celetuk salah seorang teman Ryan.
            Sial! Aku harus cepat-cepat kabur dari ruangan ini atau aku akan bertambah malu, pikir Citra.
            “Tenang. Semuanya perlu waktu dan proses. Iya kan, Citra?”, tanya Ryan seakan meminta persetujuan Citra. Yang ditanya cuma diam.
            “Citra, aku ..” Belum sempat Ryan melanjutkan kata-katanya tiba-tiba-tiba ponsel Citra berbunyi.
            “Ya, Ma. Ada apa?”, tanya Citra. “Baik, Citra pulang sekarang.”
            “Kenapa?”, tanya Melda dan Ira hampir bersamaan.
            “Aku harus segera ke pulang, sist. Penting!”, jawab Citra.
            “Perlu aku antar?”, tanya Melda.
            “Tidak, terima kasih. Aku naik taksi aja. Tugasmu adalah melanjutkan acara ini.”, tolak Citra. “Kak Ira, maaf ya aku harus pulang sekarang”.
            “Iya, tak apa”.

# # #

            Beberapa hari kemudian, Ira memberi Citra sepucuk surat dari Ryan. Akan tetapi, sebelum ia membacanya, angin telah menerbangkan surat itu. Susah payah ia berusaha mengambilnya. Surat itu melayang-layang di udara dan akhirnya terjatuh di atas genangan air. Semua tulisannya menjadi luntur. Sebelum tulisannya benar-benar luntur, sekilas terbaca sebuah kalimat tertulis ”Meeting you was fate, becoming your friend was a choice, falling in love with you was beyond my control.

                                                                            # # #


NB: Mengenai cerpen di atas, saya membuatnya sewaktu masih mengenakan putih abu2. That's why, cerita, alur, dan bahasanya masih sangat cheesy bangetz. ahahaha [by CVI]

No comments:

Post a Comment