Wednesday, 28 May 2014

Karena ku adalah Pelitamu

wow! malam ni bener2 full dengan deg2an. karena sejak semalam saya buka2 lagi blog saya yg berjumlah 4, saya mulai tertarik lagi untuk menulis. sewaktu saya liat folder di lepi lenny saya yang khusus untuk penulisan kreatif, ternyata HILANG! saya syok. karena banyak karya saya di sana yang belum saya publish. hiks. tapi setelah pakai smadav, akhirnya file yang terhidden bisa muncul lagi. Hurray!!! tidak jadi hilang :)
okey, berikut ini merupakan cerpen yang pernah saya tulis di tahun 2010. Check this out. Maklum, masih amatir nih, pas jaman masih alay pulak.. ahahahaahaa

Karena ku adalah Pelitamu

            “Kamu serius???” kata Amel kaget.
            “Yeah, aku tak punya pilihan lain. Dia udah terlalu lama menungguku,“ jawabku pasrah.
            “Lalu, apakah dia memang ada di hatimu?”
            Aku terdiam sesaat. “Suatu saat itu akan terjadi,” jawabku akhirnya.
            “Bagaimana dengan pangeran kuda putihmu itu? Sudahkah kau melupakannya?”
            “Masih dalam proses. Aku yakin aku bisa segera menghapusnya dari memoriku. Toh aku sendiri tak tahu dimana dia sekarang,” jawabku tegas seraya menggigit bibir bawahku.
            “Okey, kalau itu memang jalan yang kau pilih. Sebagai sahabat, aku hanya bisa memberi saran dan mendukungmu.” Kulihat Amel segera keluar dari kamarku setelah ia membaca pesan dari ponselnya.
Aku berdiri dari tempat tidurku dan melihat keluar dari jendela kamarku yang belum aku tutup. Sepoi angin malam membelai wajahku dengan lembut. Kuhirup dalam-dalam udara setengah memejamkan mata, berharap kegalauan ini segera sirna. Semalam Putra datang melamarku melalui orang tuaku. Aku tak ada alasan kuat untuk menolaknya lagi setelah sebelumnya berkali-kali aku lari darinya. Dia tetap saja bertahan meskipun seringkali aku membuatnya patah hati. Akhirrnya, aku pun luluh. Ternyata, kesabaran dan sikap pengertianlah yang mampu meruntuhkan tembok yang aku bangun selama ini.
Tiba-tiba suara ringtone The Day You Went Away nya M2M mengagetkanku. Aku segera mengambil ponselku yang tergeletak di atas meja. Dari Putra: Good Night. Have a nice dream. Sengaja aku tak membalasnya. Tanpa sengaja pandanganku tertumbuk pada buku diary biru langit yang juga ada di sana. Aku pun mengambilnya dan membukanya secara acak.
Senin, 27 November 2009
Aku tak tau apa yang sebenarnya terjadi padaku saat ini. Selama satu minggu ini aku memikirkannya. Sang pangeran berkuda putih. Dia seniorku di sekolah. Apa iya ya, aku sedang jatuh cinta? Ada seorang temanku yang berkata bahwa aku sedang terkena virus merah jambu.
Tiba-tiba ada ketukan di kamarku. Aku segera mengamankan diary ku itu. Ternyata, kak Vina datang dengan membawa Jahe hangat. “Semoga ini akan membantu,” katanya sambil menyodorkannya kepadaku. “Thanks”
“Apa kau sudah benar-benar yakin dengan keputusanmu?” tanyanya sembari menuju ke balkon kamarku. Aku terdiam untuk beberapa saat. “Aku tak berniat untuk mempengaruhimu. Aku hanya tak ingin kau menyesal nantiny” “Well, sudah larut malam. Istirahatlah.” Terdengar suara pintu kamarku ditutup Kak Vina.
***
            “Ira, bagaimana keputusanmu? Apa kamu sudah yakin dengan Putra? Dia memang baik. Tetapi Ibu melihat kamu masih bimbang. Pernikahan itu selayaknya terjadi sekali seumur hidup. Jangan salah memilih pasangan, Nduk,” kata ibu.
            Meskipun aku memang sedikit ragu, aku tidak bisa mengubahnya. Undangan pernikahan sudah disebar. Tiga minggu lagi aku akan menikah dengan orang yang sejak kelas 1 SMA mengejar-ngejarku. Apapun dia lakukan untukku. Hanya saja, aku tak punya perasaan apa-apa terhadapnya sampai sekarang. Entah nanti. Mungkin perasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya.
            “Apa yang sebenarnya kamu lamunkan?”
            “Eh,, tidak ada kok, Bu,” jawabku gugup.
            “Ya sudah, kalau kamu memang sudah mantap dengan pilihanmu. Semoga kamu tidak akan menyesal karenanya. Ibu hanya bisa merestuimu dan mengharapkan yang terbaik untukmu.”
***     
Dua minggu kemudian, aku mendapatkan cuti dari kantor selama beberapa hari untuk mempersiapkan pernikahanku. Aku pun mempersiapkan segalanya sendiri. Karena aku pikir ini adalah pernikahanku, jadi aku harus mengurus semuanya. Putra percaya saja terhadap hasil kerjaku.
            Saat aku masih disibukkan dengan segala persiapan pernikahan, tiba-tiba aku mendapat pesan bahwa aku harus menemui seseorang di sebuah restoran. Awalnya aku tidak terlalu menghiraukan isi pesan singkat itu. Aku harus menjaga perasaan Putra. Namun, sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal telah merubah pendirianku. Aku memutuskan untuk memenuhi undangan tersebut. Aku tak sempat berpamitan kepada orang rumah. Aku langsung mengemudikan mobilnya ke pusat kota.
***
            “Akhirnya, kamu datang, Lyra Aqvila.”, kata seorang pria yang duduk di hadapannya.
            “Maaf. Sebenarnya ada keperluan apa? Beberapa hari ini aku sangat sibuk,” kataku dingin.
            “Aku ingin meminta maaf padamu atas sikapku dulu. Apakah kamu mau memaafkanku?”
            “Kejadian itu telah lama berlalu. Bahkan, aku hampir saja melupakannya seandainya kakak tak mengungkit hal itu sekarang,” jawabku tegas. Aku sendiri sebenarnya tak yakin dengan kalimatku barusan. Bagaimana ia lupa bahwa orang yang saat ini ada di depannya telah menolaknya. Ya, dialah sang pangeran kuda putih itu. Sejenak aku kembali ke masa dimana aku masih berseragam putih abu-abu.
            Aku masih bisa mencium aroma lantai yang baru saja dipel. Udara yang masih segar. Serta kicauan burung yang juga makin meramaikan suasana pagi itu di sekolah. Sama seperti hari-hari sebelumnya. Namun, hari itu lain karena aku bertemu seseorang yang mampu masuk ke dalam hatiku yang terdalam. Sang Pangeran Kuda Putih, begitulah aku sering menjulukinya. Dia adalah seniorku sejak SMP, tetapi aku baru mengetahuinya di kemudian hari. Di saat ia telah lulus. Dia bersama beberapa temannya mengadakan briefing untuk memperkenalkan universitas dan jurusan mereka. Meskipun pada awalnya aku kurang berminat dengan promosi mereka, namun rasa ketertarikanku terhadap seniorku itu mengalahkan logikaku. Aku berusaha keras untuk dapat diterima di universitas itu.
            “Kamu serius, mau masuk STTN?” tanya Amel tak percaya. “Katanya ingin jadi dubes atau diplomat? Masa’ kuliah di sekolah teknik! Gak nyambung, dong!”
            “Itu adalah plan B ku kalau aku gak diterima SNMPTN,” ujarku membela diri.
            “Wow, sejak kapan Lyra jadi tak percaya diri gitu? Atau, jangan-jangan kamu naksir sama si Lucky tu ya? Ngaku deh!” Aku hanya tersenyum penuh arti.
            Ternyata, takdir berkata lain, aku diterima di HI di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Namun aku gagal masuk STTN. Sejak saat itu, aku berusaha melupakan keinginanku untuk menuntut ilmu di tempat yang sama dengan Lucky. Meskipun aku masih punya dua kesempatan lagi di tahun-tahun mendatang, aku tak mungkin menghamburkan tenaga, pikiran, dan materi yang telah dikeluarkan oleh kedua orang tuaku selama ini.
            Setelah satu tahun menjadi mahasiswi HI, aku masih belum bisa melepaskan sosok itu. Dengan mengumpulkan keberanian, aku akhirnya mengirim pesan kepada Lucky. Meskipun aku telah lama mengetahui nomor ponsel Lucky dari seorang teman, aku tak punya keberanian untuk menyapa terlebih dahulu. Tetapi, di senja itu aku nekat mengirim pesan terlebih dahulu dengan basa-basi sebentar dan tibalah akhirnya aku mengatakan tujuanku sebenarnya mengiriminya pesan.
            “Mungkin kakak menilai saya tidak sopan atau lainnya. Tapi jujur lebih baik bukan?” mengalirlah semua rasa yang telah aku simpan selama ini. Semuanya. Akan tetapi saying takdir tak lagi berpihak padaku, aku harus menelan pil pahit penolakan dari orang yang selama ini aku harapkan menjadi pendamping hidupku. Lalu, apa maksud kebaikannya selama ini kalau ternyata dia hanya bisa tabrak lari tanpa menghiraukan panah asmara yang ia tancapkan di hati ini. Cintaku bertepuk sebelah tangan. Sedih. Kecewa. Patah hati. Baru saat itulah aku mengalami sakitnya penolakan. Mungkin ini adalah karmaku yang sering kali menolak cinta Putra berkali kali baik secara langsung maupun tak langsung baik secara pribadi maupun di depan orang banyak.
            “Kamu mau pesan apa?” Suara Andre telah memanggilku dari masa lalu.
            “Ice Lemontea saja.”
            “Rupanya minuman favoritmu masih tetap sama.” Aku tak menghiraukan kata-katanya. Aku mengetuk-ngetukkan telunjukku di atas meja.
            “Cincinmu bagus. Kamu tentu belum pertunangan bukan?” tanya Lucky.
            Aku tersentak. Aku memaksakan diri untuk tersenyum.
            “Lyra, sebenarnya tujuanku memanggilmu datang kemari karena ada hal penting yang ingin aku nyatakan,” kata Lucky. “Aku ingin kau menjadi orang yang akan selalu menemaniku hingga akhir masaku,” lanjutnya.
            Seperti ada badai dalam hatiku. Ternyata, orang yang telah menolaknya juga mempunyai rasa yang sama. Aku mencoba mencari kebenaran dalam manik matanya. Ada kejujuran di sana. Tapi, semuanya sudah terlambat.
            “Ah.. aku tidak bisa, Kak”
            “Apakah kamu telah mencintai orang lain?” tanya Lucky penasaran.
            “Bukankah 5 tahun yang lalu kakak juga mengatakan hal yang sama kepadaku? Tetapi, bukanlah maksudku untuk balas dendam. Pernyataan itulah yang paling tepat untuk kondisi seperti ini, setidaknya menurutku”
            “Yang lalu biarlah berlalu, Lyra. Saat itu yang aku pikirkan adalah masa depan keluargaku. Aku belum memikirkan cinta. Maaf jika kamu masih menyimpan peristiwa itu sebagai luka”
            Pesanan kami pun datang. “Terima kasih,” ucapku pada pramusaji itu. Segera aku meminum lemonteaku seraya memberikan jeda untuk diriku. “Aku mengerti. Tapi, saat ini keadaannya sudah sangatlah berbeda.” Aku terdiam sejenak untuk menguatkan hatiku agar airmataku tak jatuh ketika aku di hadapannya seperti saat ini. “Kakak benar, cincin yang aku pakai di jari manisku ini adalah tanda pengikatku dari Putra,” jelasku seraya menunjukkan cincin di tangan kiriku. Aku melihat dia tertunduk tanpa mengatakan apa-apa lagi.
***
            Enam bulan kemudian.
            Tanpa sengaja aku melihat seorang gadis yang sangat ia kenal duduk sendirian di taman. Aku sengaja menghamppirinya ingin tahu keadaannya sekarang. Apakah dia bahagia telah menikah dengan orang yang sangat mencintainya? Aku pun langsung duduk di sampingnya tanpa meminta izinnya terlebih dulu.
            “Lyra, apa kabar?” tanyaku. Dia terlihat sedikit terkejut. Mungkin aku telah merusak lamunannya.
            “Baik,” jawabnya kemudian. Aku merasa aneh dengan gerak-geriknya. Dia sama sekali tak menoleh ke arahku. Apakah dia tak sudi melihatku?
            “Apa kamu keberatan aku duduk di sini?”
            “Ini adalah tempat umum. Aku tak punya hak melarangmu duduk di situ,” jawabnya diplomatis. Aku pun akhirnya hanyut dengan suasana sore itu. Mentari senja sungguh menawan hati. Sudah lama aku tak menikmati kejadian alam ini karena kesibukanku. “Apakah kamu ke sini sendirian? Mana suamimu?” tanyaku berusaha mencairkan suasana seraya melihat cincin di tangannya..
            “Aku di sini bukan untuk kau wawancarai. Bisakah kau meninggalkanku sendiri? Please”
            “Maaf,” sesalku kemudian. Aku pun beranjak pergi. Baru beberapa langkah, aku melihat orang yang aku kenal berjalan ke arah Lyra. Amel, sahabat Lyra. Aku pun berbalik melemparkan pandanganku kepada mereka. Amel berusaha membantu Lyra berdiri. Astaga. Ada apa dengan kakinya? Saat mereka sudah berjalan ke arahku, barulah aku mengerti sesuatu.
            “Sejak kapan itu terjadi?” tanyaku sambil menahan rasa sakit di dadaku.
            “Kamu ingat saat kita terakhir bertemu di restoran itu? Hanya kecelakaan kecil. Tapi telah membuatku tak bisa menikmati keindahan alam semesta lagi.” Tanpa kusadari aku hanya mengangguk. “Bagaimana dengan acara pernikahanmu? Dimana Putra sekarang?”
            “Lyra tak ingin menjadi beban Putra meskipun dia tak keberatan dengan keadaannya” kali ini, Amel yang menjawab. “Aku hanya tak mau menjadi beban orang lain. Jadi, aku memintanya membatalkan pernikahan itu,” kata Lyra kemudian. Hatiku gerimis mendengar kenyataan itu. Seandainya ada cara untukku bisa meringankan bebannya, aku pasti akan lakukan.
***
            Satu bulan kemudian.
Aku mendatangi Lucky. Berharap dia mau membantuku.
            “Kak Lucky, aku tau kau masih mencintai Lyra. Begitupun mungkin sebaliknya. Oleh karena itu, aku mohon kau meloloskan keinginanku satu ini”
            “Apa maksudmu, Putra?”
            “Aku ingin mendonorkan mataku untuk Lyra. Aku tak tega melihatnya dalam keadaan seperti ini terus-menerus. Meskipun aku tak bisa disampingnya, setidaknya aku masih bisa berkorban untuknya”
            “Apa kamu yakin?”
***
            Hari ini adalah hari yang sangat mendebarkan bagiku. Aku akan mendampingi Lyra menjalani operasi mata. Semoga operasinya lancar dan berhasil.
            Selama menunggu operasi itu, aku sangat cemas. Aku lalu berusaha mengobrol dengan orang tua Lyra yang pastinya juga sangat khawatir. Aku lalu mendekati Lucky kemudian duduk di sampingnya. “Aku penasaran, siapa sebenarnya pendonor itu. Apa kakak tahu?” tanyaku padanya. Tak ada jawaban. “Ah, aku merasa kasihan sekali terhadap Putra. Seharusnya ia di sini menemani Lyra. Tapi kabarnya ia harus pergi tugas ke luar kota.” kata Amel menambahkan.
            “Apa kamu bisa dipercaya?” tanya Lucky tiba-tiba.
***
            Hampir satu minggu setelah aku menjalani operasi. Hari ini perbanku akan dilepas. Kali ini aku hanya didampingi Amel ke rumah sakit karena orang tuaku sedang sibuk. Ah, mereka terlalu banyak aku repotkan. Alhamdulillah, kini aku bisa melihat lagi. Aku penasaran siapakah orang mulia yang telah mendonorkan kedua pelitanya kepadaku.
            Suatu hari aku sedang bercengkrama dengan keluargaku. Kebetulan hari itu Kak Lucky juga sedang datang untuk melihat kondisiku.
“Aku mau memberitahu Putra bahwa kini aku sudah melihat. Aku tiba-tiba merindukannya.” ucapan itu tanpa sadar keluar dari mulutku. Aku pun sedikit kaget. Mungkin karena aku sudah mulai memberinya tempat di relung hatiku. Dia sangat pengertian. Suasana yang tadinya ramai tiba-tiba senyap. “Sepertinya aku akan melanjutkan rencana pernikahan itu.” Lanjutku. Tak ada respon dari orang-orang di sekitarku.
“Lyra, sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu. Meskipun aku telah berjanji untuk merahasiakannya darimu. Tapi, kamu berhak tahu yang sesungguhnya,” kata Kak Lucky.
***
            Saat aku berdiri di pantai ini, aku merasakan keberadaan Putra. Secara fisik, ia memang telah tiada. Operasi itu memang berhasil. Akan tetapi, Putra tak mampu melewati masa kritisnya. Namun demikian, ia telah menjadi bagian hidupku. Pengorbanannya terlalu besar untuk orang yang seringkali melukainya sepertiku. Aku sedih tak punya kesempatan untuk sekedar mengucapkan terima kasih atas segala sesuatu yang telah ia lakukan terhadapku selama ini.
            “Apa perasaanmu sudah merasa lebih baik?” tanya Lucky yang tiba-tiba sudah ada di belakangku. Aku mengangguk perlahan. Aku tanpa sadar melihat ke arah jari manisku. Cincin tunangan dari Putra masih bertengger di sana.
            “Apakah hatimu masih ada ruang untukku?”
            “Hingga detik ini aku masih belum bisa melupakan Putra. Ia telah menjadi penglihatanku sekarang,” ujarku sambil tersenyum. Apa kamu tak keberatan?” lanjutku kemusian seraya menoleh kepada Lucky.
            “Sama sekali. Ia telah banyak mengajarkanku tentang arti pengorbanan. Aku tak  mempunyai hak untuk menggeser posisinya di hatimu. Dia benar-benar mengagumkan. Kamu sangat beruntung memiliki cintanya.”
            Semilir angin sore bertiup menerpa tubuhku dengan lembut. Mentari perlahan menyembunyikan dirinya di balik tirai malam. [by CVI]

***

No comments:

Post a Comment